P2MI cabut izin PT Multi Intan Amanah karena langgar terkait deposito

2 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mencabut Surat Izin Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (SIP3MI) PT Multi Intan Amanah Internasional pada 29 Januari 2026, setelah dijatuhkan sanksi penghentian sementara pada 19 Maret 2025.

“PT Multi Intan Amanah Internasional ini telah melakukan pelanggaran, tidak lagi memenuhi persyaratan SIP3MI, termasuk tidak menyetorkan kembali deposito uang jaminan yang telah dicairkan untuk menyelesaikan permasalahan atas kasus-kasus calon pekerja migran kita yang gagal berangkat,” kata Direktur Jenderal Pelindungan KP2MI di Jakarta, Rabu.

Rinardi menyebutkan perusahaan itu telah mencairkan deposito pada 6 Oktober 2025 untuk menyelesaikan persoalan pekerja migran.

Menurutnya, dana tersebut telah ditransfer kepada 56 CPMI/PMI, satu diserahkan kepada ahli waris karena yang bersangkutan meninggal, dan empat diberikan kepada keluarga karena PMI berada di luar negeri tanpa rekening.

Rinardi menyatakan bahwa peraturan P2MI mewajibkan perusahaan yang diberi mandat untuk memegang SIP3MI untuk menyetorkan deposit sebesar Rp1,5 miliar, yang nantinya akan digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan calon pekerja migran atau pekerja migran itu sendiri.

“Dalam aturannya, deposito ini harus dipenuhi dalam waktu 1 bulan. Kurang 1 sen pun harus diisi dalam waktu 1 bulan. (Tetapi) yang bersangkutan tidak melakukan kewajibannya,” ujar Rinardi.

Dia menambahkan bahwa perusahaan tersebut juga mangkir dari pemanggilan yang dilakukan KP2MI sebanyak tiga kali untuk mengklarifikasi pemenuhan uang jaminan deposito.

Rinardi menjelaskan bahwa pihak kementerian tidak langsung menjatuhkan sanksi terberat.

Tahap awal adalah penghentian sementara, sebagian atau seluruh kegiatan, selama tiga bulan, di mana masa itu digunakan untuk evaluasi, dan jika kewajiban terpenuhi dalam masa tersebut, izin dapat diaktifkan kembali.

Namun, jika kewajiban tetap tidak dipenuhi, Rinardi melanjutkan, proses berlanjut ke tahap pencairan deposito, yang SIP3MI akan dicabut sebagai sanksi akhir apabila deposito tidak dapat dipenuhi kembali.

Meski surat izin telah dicabut, Rinardi mengatakan P2MI tetap mewajibkan perusahaan itu untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami calon PMI atau PMI, menyelesaikan masalah yang dialami PMI di negara penempatan sampai berakhirnya Perjanjian Kerja PMI yang terakhir diberangkatkan, terakhir mengembalikan SIP3MI kepada Menteri P2MI.

“Artinya sebagai perusahaan dia masih tetap hidup, tetapi dia harus berusaha di bidang lain, tidak boleh berusaha di bidang penempatan pekerja migran,” kata Rinardi.

Rinardi menegaskan bahwa PT Multi Intan Amanah Internasional tidak dapat mengajukan izin usaha baru selama lima tahun. Selain itu, penanggung jawab perusahaan dilarang menjadi penanggung jawab usaha penempatan pekerja migran selama lima tahun sejak tanggal pencabutan izin.

KP2MI melaporkan bahwa selain PT Multi Intan Amanah Internasional, terdapat dua perusahaan lain yang SIP3MI dicabut, yaitu PT Ramzi dan PT Putri Samawa.

Selain itu, KP2MI juga menjatuhkan sanksi penghentian sementara kepada 11 P3MI, terdiri atas lima perusahaan karena melakukan penempatan nonprosedural dan enam perusahaan karena tidak memenuhi hak calon PMI atau PMI.

Baca juga: KP2MI data dan petakan PMI bermasalah yang telah pulang ke RI

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article