Istanbul (ANTARA) - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyetujui potensi penjualan militer asing senilai 179,1 juta dolar AS (sekitar Rp2,9 triliun) kepada Ukraina untuk pemeliharaan sistem pertahanan udara Patriot beserta perlengkapannya.
Sebagaimana diumumkan Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA), Jumat (29/8), Ukraina mengajukan permintaan peralatan dan layanan untuk menjaga keberlanjutan operasional sistem pertahanan udara Patriot, termasuk baik suku cadang rahasia maupun tidak rahasia.
Dukungan lainnya termasuk pemeliharaan, pembaruan perangkat lunak, modifikasi sistem, peralatan uji, perlengkapan komunikasi, hingga layanan bantuan teknis. DSCA menyatakan penjualan tersebut akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri AS.
“Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Ukraina menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan dengan memperkuat kapasitas pertahanan diri serta misi keamanan regional melalui sistem pertahanan udara yang lebih andal,” demikian pernyataan dari lembaga bidang pertahanan tersebut.
Baca juga: WSJ: Trump setuju AS jual 3.350 rudal jarak jauh ke Ukraina
DSCA menekankan bahwa penjualan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan.
Departemen Luar Negeri AS juga menyetujui potensi penjualan layanan komunikasi satelit senilai 150 juta dolar AS (sekitar Rp2,46 triliun) untuk Ukraina dan penjualan sistem Integrated Battle Command System Enabled Patriot senilai 8,5 miliar dolar AS (sekitar Rp139,7 triliun) kepada Denmark.
Persetujuan itu menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai negara-negara Eropa yang diminta memberikan jaminan keamanan melalui pengerahan pasukan darat, sementara AS berpotensi menyediakan dukungan melalui kemampuan udara.
Sehari sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS juga menyetujui penjualan amunisi udara senilai 825 juta dolar AS (sekitar Rp13,55 triliun) untuk Ukraina.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Lavrov: Putin siap berunding langsung dengan Ukraina
Baca juga: Trump klaim bisa akhiri perang Ukraina lewat tekanan dan negosiasi
Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.